Thursday, March 17, 2016

Da T R U T H Religion

A musical performance with sound theology conveyed through edgy vibes.

This guy's good. Check out his other songs as well and be blessed~

Sunday, December 27, 2015

What is So Merry About Christmas?

What is so merry about Christmas?





Apakah hal yang begitu menyenangkan dari Natal?

Merenungkan masa natal ini. . .
Ketika kini aku jauh dari keluarga dekat, dan bersua dengan keluarga jauh. Ketika tahun lalu aku bersuka cita dalam keseruan bersama keluarga, cross kado, sing a song, dan kesehatian lainnya, sedang tahun ini aku merayakan natal tanpa orang tua.  Tanpa pesta. Tanpa kado natal, tanpa lampu gemerlap, pohon natal pun tidak.

Ketika hangatnya natal tidak terasa di kota Medan yang asing. Ketika tanggal 24 dan 25 Desember, aku bergereja di daerah dimana tak satupun gereja mengadakan kebaktian dalam bahasa yang kumengerti. Tanpa memperoleh pesan natal. Bahkan dalam ibadah natal di kampus, natal fakultas ataupun tingkat universitas, aku kurang mendapatkan sesuatu, karena lebih sibuk menjadi panitia. Penyelenggaran acara sebagai panitia pun begitu tidak mulus kurasa. Tidak pernah menikmati juga khotbah yang utuh. Tidak dalam 4 kali ibadah natal sekalipun, tidak dapat dengan sepenuh hati menerima firman.           

Bagaimana ini bisa dibilang menyenangkan atau membahagiakan?

What is so merry about Christmas?

Tahun ini begitu sulit memaknai Natal. Berhubung menghujung akhir tahun, ketika merefleksikan setahun belakangan, begitu banyak kejadian buruk (dalam berbagai definisi) terjadi. Ekspektasi yang tidak terpenuhi, peran yang gagal dijalankan, hubungan pertemanan yang rusak, tujuan – tujuan yang tidak tercapai. Seperti saran Rolf Dobelli, seorang penulis : visit the cemeteries, the graveyard of failed individuals. Lihatlah kuburan mimpi – mimpi yang sirna, angan – angan para pejuang mimpi yang tidak tercapai, maka kau tidak akan bias dalam menilai proses hidup yang kau jalani.
Pelayanan setahun ini rumit, penuh drama—seperti yang seorang teman pernah katakan. I’m visiting the graveyard of a failed individual, my own graveyard. Aku telah gagal dalam banyak hal, dalam banyak kesempatan. Dan kini, aku gagal mengikuti Natal. Jadi bagaimana aku harus menikmati natal yang penuh kegagalan? Saat kondisi hidup dipenuhi frustasi, penuh pertanyaan.


......tanpa kusadari, terbaring dalam palungan yang hina itu, jawaban dari segala kesuksesan hidup, segala perjuangan, kepahitan dan kegagalan, segala penyesalan dan kebingungan.

Segala harapan dan keraguan bertemu pada malam yang kudus. Jawaban atas segala pertanyaan

Sunday, October 25, 2015

Why I Am A Christian

Beberapa hal yang ingin gw sampaikan di awal :
1. Post ini bukan bertujuan kristenisasi, jadi tenang. Seloo.
2. Akan tetapi konten post ini mungkin cukup blak – blak’an dan mungkin ada kelompok orang yang sulit menerimanya.
3. Maap terlebih dahulu kalau dirasa bahasa yang gw gunakan kurang familiar bagi beberapa orang, karena target reader gw mahasiswa utamanya.
4. Gw berusaha memadatkan post ini supaya tidak terlalu panjang, namun ini topik yang vital sehingga ga bisa banyak gw susutkan. Mohon maklum : D
5. Gw minta maaf terlebih dahulu untuk segala kekurangan post ini. Post ini masih mungkin akan gw update dengan tambahan - tambahan yang memang belum sempat gw masukkan~

Melalui post ini sebenarnya tujuan gw adalah menyampaikan beberapa gagasan kepada para pembaca sehubungan dengan beragamnya worldview yang eksis di masa ini. Di akhir, gw akan memaparkan bagaimana standpoint gw dalam kekristenan, mengapa gw beriman di dalam Kristus. Namun terlebih dahulu, untuk sampai kesana gw harus membangun argumen gw dari bawah. Dari fondasi dan kerangka iman. Mari kita mulai.

Building A Case for Faith

Gw mau memaparkan kerangka iman gw, dan akan mengulas beragam worldview lain yang tidak gw imani, kepercayaan – kepercayaan dan paham – paham lain. Tetapi disini gw ga akan banyak bahas tentang paham ateisme. Karena kalau mengulas ateisme, gw pasti harus masuk juga ke ranah subjective morality, problem of evil and pain, origin of species, origin of life, darwinism, etc. Mabok gw. Mungkin di lain waktu gw akan bahas hal – hal itu. Gw memang tidak bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara empiris, namun tidak ada ateis yang dapat membuktikan tidak adanya Tuhan secara empiris juga (Buku kuliah Metode Penelitian Akuntansi pun mendukung hal ini. wkwk). Namun, terkait ateisme, gw disini mau menyinggung sedikit bahwa mayoritas pemegang paham ateisme mendasarkan perspektifnya pada prinsip :

Thursday, October 22, 2015

The Dualities of Yesterday and Today, The Singular Hope for Tomorrow


Yesterday, I was sad, : (
Today, I am happy : )

Yesterday, I felt lonely in good company,
Today, I feel togetherness even when solitary : )

Yesterday, life felt flat,
Today, life feels like a fun ride~

Yesterday, music dances in my ears..
Today, music buries itself within my heart~~

Yesterday, life went and passed me by,
Today, life goes on with style!

Yesterday, everyday seemed so repetitive and boring,
Today, everyday feels like a blast. So challenging! Haha.



Yesterday, I was bound tight, : (

Sunday, October 18, 2015

Can All Religions Lead to The Same God?

"All religions lead to the same God".
☝☝☝☝☝
Above is one of the most dangerous statements ever.
It usually comes from someone who promotes tolerance. One refuses the idea that people from different religions can't unite. Therefore one becomes indifferent towards people's beliefs. When faced with fundamental questions, one musters the magic words, "I don't know. It doesn’t really matter. All paths lead to the top of the mountain".
Saying "I don't know" is actually tolerating IGNORANCE and at the same time making it sound INTELLIGENT and wise.
Something that is seldom realized by people is that saying "All religions lead to the same God" is equal to saying :
"I know enough to conclude that all religions lead to the same God."
.
.
Now this is a powerful claim. So powerful that it can only be said by God Himself!
Only God truly knows which path leads to Him and which doesn't. Humans cannot make this claim! Any human daring enough to say this is arrogant.
Tolerating ignorance
Tolerating indifference
Tolerating arrogance
They all are equal to tolerating intolerance.
Please be very careful with what the blind people tell u what they see!
Let us open our hearts and our minds.
Know that NOT ALL paths can lead to God.
If anything, I believe that all beliefs lead to God--in a context that is: Christianity leads to His mercy, while other beliefs lead to His judgment,
It is wise to take time and ponder this matter seriously.

Sunday, September 27, 2015

When I Think About The Lord

Gw sebenernya merencanakan untuk ngepost hasil pendalaman Alkitab gw secara mingguan. Dalam hal ini gw gagal sejauh ini... karenaa........

Well gw bs kasih banyak alasan tapi intinya sih manajemen waktu saya kurang baik dan jam tidur saya kebanyakan (?) Padahal gw ada kerinduan untuk mengulas beberapa topik yang penting..
Tapi, kali ini gw mau sharing sedikit tentang sebuah lagu berjudul "When I Think About The Lord".

Jadi beberapa hari yang lalu gw tengah menekuni hobi baru gw yaitu mengutak - atik usb recorder warisan PO FEB UI. Benda ini bagi gw salah satu aset paling berharga persekutuan kami. Isi usb itu adalah rekaman pembinaan, juga lagu - lagu rohani.
Daaan..... karena masih cukup besar sisa space yang ada, gw juga memasukkan lagu - lagu yaang mungkin ngga begitu rohani secara general ._.

Anyways, ketika gw lagi denger - dengerin lagu yang ada dalam usb tersebut, gw sampai pada lagu yang satu ini. Begitu gw dengerin intro lagunya, gw langsung mikir, "Ini kak Jason (Akuntansi 2010) kah yang mainin keyboardnya? Mirip banget." Keyboardnya alus banget dimainkan, suaranya ringan tapi tegas. Ad libe-nya pas dan ngga lebay. Total eargasm to me. 
Gw berusaha mencintai semua genre musik yang ada di dunia, tapi gw emang punya soft spot buat musik funky jazz kayak gini, dimana alunan musik bisa sangat groovy, dan beat lagunya juga jelas. Ini genre kesukaan gw, apalagi kali ini digunakan mengiringi sebuah gospel music.

Tapi, betapapun gw menyukai kekerenan musiknya, makin gw dengerin, makin gw tertarik ama liriknya. Setelah gw denger, wah, liriknya lebih keren lagi dari musiknya. Mungkin bs gw post :

When I Think about the Lord,
How He saved me, how He raised me,
How He filled me, with the Holy Ghost.
How He healed me, to the uttermost.

When I Think about the Lord,
How He picked me up and turned me around,
How He placed my feet on solid ground

It makes me wanna shout,
Hallelujah,
Thank you Jesus,
LORD, your worthy, of all the glory, and all the honor,
And all the praise... (2x)

Written by : James Huey


James Huey menulis lagu ini di tahun 1998 saat ia berumur 14 tahun. Saat itu ia berdoa kepada 


Sunday, August 30, 2015

Hamba yang Merasa Hambar -- Pokok Anggur Pelayanan

         Belakangan ini gw banyak perenungan. 3 bulan liburan ini berpikir tentang bagaimana kedepannya menjalani tingkat akhir perkuliahan. Kadang kerap terlintas pikiran, “Waduh, gue beneran udah mahasiswa tingkat akhir ya?”. Dan apakah yang gw lakukan dalam proses akhir perkuliahan ini? Pelayanan. Yep, selain kuliah, mayoritas kegiatan gw di kampus berhubungan erat dengan persekutuan mahasiswa. PO FEB UI. Ketika mendengar istilah “pelayanan”, tanggapan orang bisa beda – beda. Tapi di post ini, gw mau memberi gambaran terkait apa yang gw lalui dalam pelayanan di kampus..
             Ngga gampang. Ada masa dimana pelayanan hambar, malah bisa bikin down. Selama liburan gw berpikir bagaimana sebenarnya gw mungkin bisa mengalokasikan waktu untuk magang, exchange, atau maybe, bener – bener LIBURAN ala traveler sejati. Tapi, krn dr awal gw mutusin bahwa untuk mempersiapkan kegiatan PO gw perlu fokus, gw memilih ga magang, ataupun melakukan hal lain. Awalnya fine – fine aja, tapi semenjak negara api menyerang mulai menghadapi tantangan di bidang Kelompok Kecil, gw ngerasa ada banyak banget hal yang ternyata belum gw ketahui, sedang banyak yang harus disiapkan. Bahan – bahan KK cukup membingungkan gw dan belakangan gw mencoba untuk mendalami doktrin, tapi malah makin ga ngerti banget. Gw ngerasa menemukan hal – hal yang justru menggoyahkan gw, dan gw membiarkan diri terhanyut. Di saat bersamaan, gw ngeliat temen – temen yang ikut aktifitas dan acara – acara bergengsi selama liburan. Kegiatan – kegiatan yang “menambah insight”, so to speak.
Jujur gw sempet berkaca dan introspeksi, kerap juga bertanya “Lo ngapain dah den ngurusin masalah beginian? Prestasi akademis cuman segitu doang, malah sibuk bikin kurikulum KK, nyambut – nyambutin maba, rancang ibadah, doain orang yang lo kenal juga kagak, mikirin penginjilan, mau jadi PENDETA lo?? Masuk STT GILAK, ngapain LO belajar akuntansi??”. Mungkin ada orang – orang yg kenal gw yg mungkin kesel ama statement barusan (gatau sii.. maap ya gw orangnya vulgar), tapi kenyataanya perjalanan ini memang sebuah pergumulan.