Sunday, October 25, 2015

Why I Am A Christian

Beberapa hal yang ingin gw sampaikan di awal :
1. Post ini bukan bertujuan kristenisasi, jadi tenang. Seloo.
2. Akan tetapi konten post ini mungkin cukup blak – blak’an dan mungkin ada kelompok orang yang sulit menerimanya.
3. Maap terlebih dahulu kalau dirasa bahasa yang gw gunakan kurang familiar bagi beberapa orang, karena target reader gw mahasiswa utamanya.
4. Gw berusaha memadatkan post ini supaya tidak terlalu panjang, namun ini topik yang vital sehingga ga bisa banyak gw susutkan. Mohon maklum : D
5. Gw minta maaf terlebih dahulu untuk segala kekurangan post ini. Post ini masih mungkin akan gw update dengan tambahan - tambahan yang memang belum sempat gw masukkan~

Melalui post ini sebenarnya tujuan gw adalah menyampaikan beberapa gagasan kepada para pembaca sehubungan dengan beragamnya worldview yang eksis di masa ini. Di akhir, gw akan memaparkan bagaimana standpoint gw dalam kekristenan, mengapa gw beriman di dalam Kristus. Namun terlebih dahulu, untuk sampai kesana gw harus membangun argumen gw dari bawah. Dari fondasi dan kerangka iman. Mari kita mulai.

Building A Case for Faith

Gw mau memaparkan kerangka iman gw, dan akan mengulas beragam worldview lain yang tidak gw imani, kepercayaan – kepercayaan dan paham – paham lain. Tetapi disini gw ga akan banyak bahas tentang paham ateisme. Karena kalau mengulas ateisme, gw pasti harus masuk juga ke ranah subjective morality, problem of evil and pain, origin of species, origin of life, darwinism, etc. Mabok gw. Mungkin di lain waktu gw akan bahas hal – hal itu. Gw memang tidak bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara empiris, namun tidak ada ateis yang dapat membuktikan tidak adanya Tuhan secara empiris juga (Buku kuliah Metode Penelitian Akuntansi pun mendukung hal ini. wkwk). Namun, terkait ateisme, gw disini mau menyinggung sedikit bahwa mayoritas pemegang paham ateisme mendasarkan perspektifnya pada prinsip :


“EVERYTHING IN EXISTENCE IS THE RESULT OF THE FORMULA :  TIME + MATTER + CHANCE

Segala yang ada di dunia ini hanya mungkin terbentuk/terjadi oleh karena unsur waktu, materi, dan probabilitas. Asumsi apapun yang mereka pegang : big bang, chemical evolution, dll, semua terjadi karena ada unsur probabilitas. Kalau kita parafrase secara kasar, mereka menyimpulkan bahwa alam semesta dan segala isinya terbentuk dengan sendirinya oleh karena kebetulan.

Gw pernah menyaksikan seorang ateis yang ditanyai oleh penanya,
“Kalau kamu seorang ateis, lalu menurutmu dari mana kah semua yang ada di alam semesta ini muncul?”
Alam semesta ini muncul dengan sendirinya. Ia ada karena ia memang ada. Everything exists because they are supposed to be the way they are.”
Penanya itu lalu melanjutkan dengan menunjuk sebuah bangunan yang berdiri di samping mereka, “Kalau begitu saya ingin bertanya pak, menurut bapak, bagaimana bangunan ini dapat terjadi?”
Karena dia memang direncanakan untuk terjadi. Dia memang seharusnya berada disitu, dibangun disitu.”
“Kalau begitu bapak mengimplikasikan bahwa ada yang merencanakan bangunan itu dibangun dan berdiri di posisi itu bukan? Dengan kata lain ada orang yang merencanakan dan membuat bangunan itu ada.”
Iya.”
“Lalu jika sebuah bangunan yang begitu kompleks struktur dan materialnya ini dapat terjadi hanya karena ada pembuatnya, bagaimana mungkin alam semesta yang jauh lebih sophisticated, lebih luas dan kompleks ini terjadi tanpa ada pembuatnya?”

Percakapan ini terus berlanjut dengan argumentasi keduanya dimana sang penanya terus mengusung gagasan bahwa alam terbentuk karena ada Pencipta, dan sang penjawab terus menekankan bagaimana alam berasal dari dirinya sendiri.

Belakangan ini gw banyak berdiskusi dengan beberapa pihak yang berbeda pandangan dengan gw. Gw menanyai salah satu pihak ateis yang cukup terkenal, yang gw ajak berdiskusi tentang apa yang ia percaya, kepada apa ia menggantungkan pengharapan hidupnya. Ini jawaban dia persisnya gw quote, “Ya terserah, kalau masalah harapan urusan pribadi, nggak ada yang salah selama prinsip itu dipegang sendiri dan nggak maksa orang lain.”

Perihal ‘nggak maksa orang lain’ itu gw setuju banget. Tapi gw sangat tidak damai dengan menaruh harapan kepada persepsi pribadi. Prinsip individu yang menaruh pengharapan pada dirinya sendiri. Gw menemukan bahwa prinsip hidup ateisme itu sungguh fallible. If you are an atheist, an intellectual one even, you will still be missing a lot of stuff, man. Mohon maap, bagi gw ateisme adalah paham terbodoh yang pernah ada. Jujur gw ga pernah ateis.. Tapi mungkin gw pernah ada di titik yang ga beda juga sih, gw pernah agnostik. Gw ga cukup iman dan logika untuk mengklaim bahwa Tuhan itu tidak ada, sebaliknya gw justru berpikir, “Gw ga bisa buktiin Tuhan itu ada atau ngga, tapi gw rasa justru Tuhan itu ada si, tapi kalau Dia ada, Dia itu bajingan! Kalau ngga, kenapa hidup gw sulit banget terasanya?? Kenapa ada konsep surga neraka, kenapa Dia biarin ada yang ke neraka?? Kenapa banyak paham berbeda dalam menafsirkan hakikat Tuhan? Kenapa Dia ijinin itu? Tuhan jahat!!”

........Itu bener - bener kata - kata gw waktu gw sedang kacau. Betapa dulu gw penuh hujatan. Sebenarnya itu masa yang cukup berat dan memalukan buat gw.
Menurut gw para agnostik adalah versi lebih jujurnya para ateis. Kumpulan orang yang putus asa dan memilih untuk indifferent terhadap eksistensi Pencipta. Gw jg ga akan mengulas agnostisisme. Tetapi jika ada dari pembaca yang agnostik, gw tau itu proses yang sulit. Gw jg ngga mudah banget untuk kembali percaya. Tetapi bagi yang mengalami hal serupa, gw cm mau bilang, lo butuh kasih untuk lepas coy. You’re not alone and you need to seek help.

Selanjutnya :
Dalam membahas keimanan, kita ga mungkin mengabaikan prinsip prinsip ilmu filsafat dan filosofi. Nah. Halamak susah banget lah kalo udah ngomongin filosofi. Kalo dah mulai nanya – nanya pertanyaan2 macem “Siapa aku?” bla bla.... Haduh saya jg bingung menjawabnya. Filosofi itu susah dan kerap bikin gw capek. Tapi dalam memandang ranah filosofis, gw punya cerita favorit yang cukup menjelaskan hal ini. Jadi ceritanya begini :

Diskusi Filosofis di dalam Mobil

Suatu hari Bapak Z sedang mendatangi sebuah acara di kota Columbus, ditemani oleh rekannya, Ibu Y. Mereka berkendara dalam sebuah mobil, menuju Ohio State University, sampai akhirnya melewati sebuah bangunan yang menarik. Ibu Y, sebagai orang yang mengenal baik kota ini, berusaha menerangkan kepada Pak Z yang adalah pendatang.

Ibu Y : Pak Z, tahukah anda kita baru saja melewati  Wexner Center for the Arts? Bangunan itu merupakan salah satu bangunan post-modern pertama di Amerika.
Pak Z : Bangunan Postmodern, bu? Apakah itu? Saya tahu tentang  fesyen postmodern, puisi postmodern, tapi saya baru pertama mendengar tentang bangunan postmodern.
Ibu Y : Yah, arsitek bangunan ini berkata bahwa dia mendesain bangunan ini tanpa tujuan tertentu, mendesain dengan sembarangan. Ketika ia ditanya mengapa, si arsitek menjawab, “Jika hidup saja selalu berubah – ubah, tidak menentu, tidak masuk akal, dan tidak bermakna, mengapa bangunan – bangunan kita perlu memiliki desain yang bermakna?” Bagaimana pendapat Pak Z tentang hal ini?
Pak Z : Jadi argumen si arsitek adalah karena baginya hidup tidak bermakna, tidak punya tujuan, sama halnya bagi bangunan zaman sekarang, tidak perlu direncanakan dengan memiliki desain yang jelas?
Ibu Y : Benar pak.
Pak Z : (berpikir sejenak lalu tersenyum) Kalau begitu, apakah si arsitek melakukan hal yang sama terhadap fondasinya?
Seketika itu juga suasana hening. Ibu Y tidak menjawab.



Btw : Ini gambar Wexner Center for The Arts



Apa pembaca mengerti maksud cerita ini? Sang arsitek berpendapat bahwa hidup terlalu penuh intrik, bercampur jutaan ideologi sehingga tidak ada yang tentu. Hidup ini dia anggap tanpa arah, sehingga kita bisa melakukan apapun dalam hidup. Ini direfleksikan dari desainnya pada bangunan Wexner. 

Bisa dilihat di gambar, bangunan ini cukup unik. Ada menara yang terbelah dua, banyak pilar yang tidak menopang apa – apa dan bentuknya tidak jelas. Ada tangga yang tidak dapat dinaiki, tidak menuju ke lantai manapun. Sang arsitek mendesain bangunan ini sesuka hatinya karena menurutnya hidup pun demikian. Tetapi, Bapak Z mencoba mengingatkan bahwa, tidak peduli bangunannya berbentuk bagaimanapun, semua bangunan tetap memerlukan fondasi yang kuat! Bangunan berupa kabin kecil yang didirikan diatas fondasi  yang kokoh, lebih pasti longevity, kelangsungannya, dibanding bangunan pencakar langit yang kokoh tapi didirikan diatas fondasi yang rapuh. Sama seperti  hidup, hidup masing – masing kita berbeda, terbentuk seiring berjalannya waktu, melahirkan pribadi yang unik satu dengan yang lain. Tapi kita tidak bisa bermain – main terhadap fondasi hidup tersebut!

Menurut gw, kalau gw belajar filosofi, opsinya cuman 2. Entah gw jadi orang yang melihat bangunan Wexner dari permukaan tanah hingga ke ujung atas bangunan, atau gw justru melihat bangunan itu dari fondasinya hingga ke ujung atas bangunannya. Bagi gw, ateis adalah kumpulan orang yang pertama, hanya melihat kehidupan dari apa yang terlihat di permukaan, apa yang konkrit bisa dibuktikan dan memuaskan logika.

Gw termasuk tipe kedua, gw percaya bahwa segala hal yang ada di semesta ini ada dasarnya, ada fondasinya! Jika dalam suatu hari, gw sedang memilih antara sarapan dengan menu nasi goreng atau mie goreng, gw akan memutuskan pilihan berdasarkan nilai – nilai yang gw pegang. Di satu hari gw mungkin akan memilih nasi goreng, di hari lain mungkin gw akan memilih mie goreng, tetapi dibalik semua kemungkinan pilihan itu, ada nilai – nilai dasar yang menjadi tolak ukur gw dalam memilih. Nilai – nilai turunan yang menjadi faktor gw mengambil keputusan pun berasal dari nilai – nilai yang lebih esensial lagi, yang berakar lagi dari nilai yang paling dasar dari yang terdasar. Gw percaya bahwa nilai yang paling prinsipil yang menjadi dasar semua manusia adalah nilai yang diberikan. Bukan dicapai/diperoleh. Gw percaya pemberi nilai yang mendasar itu adalah Tuhan, dan Tuhanlah dasar yang utama. Ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kapasitas untuk menyembah. Bahkan orang ateis pun pasti menyembah! Entah menyembah perspektif dirinya sendiri, menyembah rasio, menyembah materi, atau lainnya. Semua orang memiliki lubang dalam hidupnya yang perlu dipuaskan, kita mencoba mengisi  lubang itu dengan berbagai hal. Tapi gw percaya hanya Tuhan yang bisa mengisinya. Dialah fondasi segala yang ada! Dan gw percaya, fondasi yang mulia tersebut hanya bisa dihubungkan kepada bangunan utama, hanya oleh INJIL.

*Oh iya, iklan bentar. Cerita Bapak Z dan Ibu Y itu adalah kejadian nyata. Bapak Z adalah Ravi Zacharias. Bila ada yang belum mengenal siapa Ravi Zacharias, siapapun lo, gw sarankan cari tau siapa dia. Apapun paham yang lo pegang, lo akan mendapat sudut pandang yang unik setelah mengenal dia. Tq. Lanjut gan.*

Yep. Injil ajaran Kristen lah satu – satunya penghubung yang valid bagi gw. Pertanyaannya, bagaimana mungkin gw mengklaim hal ini? Ya gak? Gw dari lahir Kresten. Makanya gw Kresten. Kalau  gw lahir di keluarga Buddhist, kemungkinan besar akan tumbuh sebagai umat Buddhist, kalau lahir di keluarga Islam, kemungkinan gw bakalan jadi Muslim. Terusss gimana caranya gw sekarang bisa klaim Injil lah yang bener? Sedang nyicipin agama lain aja gw belum pernah. Gimana bisa mengcover semua kepercayaan yang ada di dunia sebelum benar – benar memutuskan?

Sebenarnya tidak sesulit itu. Secara sangat – sangat sederhana, sebenarnya semua kepercayaan, jutaan paham – paham, worldviews yang ada di bumi ini dapat digolongkan menjadi 3. Yaitu : Paham bahwa
[Hanya Alam Semesta yang Ada]
[Hanya Tuhan yang Ada], dan
[Tuhan dan Alam Semesta Keduanya Ada].









Jadi kita tidak harus menjadi expert di setiap kepercayaan yang ada, kita cuma perlu mengetahui dasar – dasar utamanya. Dan seperti yang dipaparkan diatas, kita bisa mengklasifikasikan worldviews yang ada di dunia ke dalam tiga kategori. Tanpa menyelami jutaan paham yang ada di dunia ini, kita dapat langsung memangkas paham – paham yang tidak valid dengan pengkategorian tersebut.

Kategorisasi ini termasuk tipe yang paling simpel sih. Gw menemukan kategorisasi yang membagi worldviews menjadi 5 kategori, 7 kategori, dan banyak lagi. Ini termasuk pengkategorian yang paling sederhana. Tujuan gw disini bukan untuk mengekspos kelebihan, kelemahan paham - paham yang ada. Tujuan gw adalah hanya untuk ngasih tau, bahwa sebenarnya tidak sesulit itu untuk memahami berbagai paham yang kita kenal, maupun tidak kita kenal baik.

Maka dari itu, gw akan memberi contoh. Kalau gw ngejelasin semua worldview yang pernah ada, seumur idup gw juga ga akan cukup : p  Jadi paling tidak gw akan mengulas 4 kepercayaan terbesar yang ada di dunia : Kristen, Islam, Hindu, Buddha. Untuk sekarang, gw akan menyatukan dahulu Kristen dan Katolik. Sebenarnya terdapat perbedaan – perbedaan yang fundamental diantara Kristen dan Katolik. Gw sebelum kuliah selalu sekolah di sekolah Katolik, tetapi bagi gw terdapat hal – hal prinsipal yang tidak gw imani dari ajaran Katolik. Namun disini, gw mengambil stance C.S. Lewis dalam memandang Katolik, tidak sebagai musuh, namun sebagai rekan, teman. Bukan berarti gw memandang kepercayaan selain Kristen dan Katolik sebagai musuh juga loh ya. You know what I mean lah ya... please..

Banyak cara menelaah sebuah kepercayaan, tetapi salah satu cara yang diajarkan dari PKTB
 (Pemimpin Kelompok Tumbuh Bersama) gw, dan dari RZIM adalah : penelusuran suatu kepercayaan dapat dikaji dari aspek Origin (asal muasal), Meaning (makna), Morality (moralitas), dan Destiny (tujuan akhir). Ini secara singkat :








So, itu perbedaan fundamental diantara semuanya. Namun gw baru memaparkan hanya kulit luarnya saja dari setiap paham tersebut. Gw sama sekali belum membahas semua kepercayaan tersebut secara dalam, apalagi membahas sekte - sekte yang termasuk dalam tiap pusat kepercayaan tersebut. Disini gw ga akan bahas interpretasi pengkajian ini juga, gw hanya memaparkannya saja (Kalau ada yang mau sharing, diskusi ketemu langsung sama gw terkait masalah ini, gw dengan senang hati akan menjelaskan lebih jauh). Poin gw disini adalah : Bahwa sesungguhnya, all religions are superficially the same, but fundamentally different! Semua agama itu memiliki perbedaan yang mendasar. Akan tetapi, gw ingin menunjukkan dimana posisi kekristenan diantara semua hal ini.

Keempat agama diatas percaya bahwa diatas segalanya terdapat Sang Pencipta (atau otoritas tertinggi/ kondisi enlightened kalau versi Buddha), dan dibawahnya terdapat ciptaan (konteksnya yaitu manusia). Dan semua setuju bahwa agar ciptaan dapat sampai kepada Penciptanya (atau pada pencerahan sejati) adalah hanya jika manusia dapat menembus hambatan utama yang ada. Keempat agama diatas setuju bahwa hambatan utama yang dimaksud adalah dosa, atau maya, atau overdesire, yah, apapun istilahnya, yang jelas ini hambatan/roadblock yang sejenis SIN lah pokoknya.. in general..

Akan tetapi, ini perbedaan utama yang ingin gw paparkan : Tiga dari agama tersebut (Islam, Hindu, Buddha) menekankan bagaimana perbuatan baik dan tindakan – tindakan yang dipandang mulia lah yang akan mengantar manusia menuju akhir yang baik dari hidupnya (walaupun ketiganya berbeda dalam prinsipnya). Ironisnya, mayoritas orang Kristen bahkan berpendapat kalau Kristen pun demikian! Sebaliknya! Sekali lagi, all religions are superficially the same, but fundamentally different! Dalam hal ini, yang paling membedakan Kekristenan dari worldview yang lain adalah justru bagaimana perbuatan baik manusia tidak akan dapat membawa manusia pada akhir baik yang dituju tersebut. Kristen memandang bahwa manusia dapat selamat dan berakhir di Surga hanya karena belas kasih Tuhan, karena anugerah, karena pemberian! Bukan semata – mata karena hasil perbuatan baik! Kristen memandang bahwa semua usaha manusia itu nilainya 0 (nol) bagi keselamatannya! Dalam kekristenan, manusia bukan berbuat baik untuk berkenan di hadapan Penciptanya. Sebaliknya, Tuhan berkenan terlebih dahulu kepada manusia, oleh karena itu, manusia berbuat baik sebagai rasa syukur terhadap perkenanan-Nya!

In Christianity, it's not about what you have done or what you will do. It's about what God has done for you! 

Every other religious systems tell you to clean up your act first, and then come!! Fix your problems, then come! One view even clearly states, “You do your duty. If you do not do your duty, you will not be accepted!”
Only in Christianity can acceptance come first. Only in Christianity did Jesus clearly say, “I came, so that you CAN BE HELPED.”

Ini yang paling membedakan Kristen dari yang lain... Bagaimana bisa? Perbuatan baik sama sekali tidak menjadi andil dalam menentukan akhir hidup seseorang? Hanya di Kristen lah ada terdapat ajaran semacam ini.. tidak ada di ajaran lain.. Tapi mengapa bisa ajaran yang begitu antimainstream ini memiliki pengaruh yang begitu signifikan dalam perkembangan sejarah dunia?  Mengapa??
Yesus Kristus.
Tanpa kehadiran Yesus di bumi, semua argumen gw tidak akan valid.
Hanya itu satu – satunya unsur yang bisa menyebabkan Kristen menjadi ajaran yang luar biasa unik. Menyebabkannya begitu berbeda dari yang lain. Yang terkesan aneh. Wkwk. Waktu dulu gw masih awal – awal kenal Kristen, rasanya enaaak banget. Sangat mudah untuk menganggap Kristen sebagai agama gampangan kalau kita tidak mendalaminya. Tinggal percaya terus selamat ke surga? Enak banget. BANGET – BANGET. Namun baru setelah gw perdalam lagi ajaran – ajarannya, gw mengerti kalau ga sekadar se’enak’ itu....
Nah.
Penjelasan terakhir (huft capek juga nulisnya) adalah Why Dennis is A Christian. Gw ga bisa membuktikan dengan empiris mengapa Kekristenan adalah jalan yang tepat. Bukan hanya hal ini tidak mungkin dilakukan, ini memang tidak dikehendaki untuk terjadi. Alkitab menunjukkan bagaimana dasar percaya bukanlah karena penglihatan, tapi karena iman. Jadi yang gw bisa lakukan hanyalah memberikan kesaksian. Mengapa gw kristen.


"Why I am A Christian"

Sebenarnya ada 3 alasan utama gw Kristen :
1.       Karena orang tua gw Kristen.
Yap. Itu alasan pertama. Dulu teman baik gw pernah bertanya, “Den, kenapa coba lo Kristen? Kalau gw sih ya emang gara2 ortu gw Kristen makanya gw juga”. Kepada temen gw ini gw menjelaskan, “Wah, kaga bro, kalo gw mah emang karena gw tau iman gw emang benar disini karena ajaran Kristen itu bla bla bla....” Setelah gw ceramahin doi (kalo lo baca ini, peace bro), gw merenung lagi..
Tapi lalu makin gw pikir - pikir, makin gw sadar.. iya ya, temen gw ni bener juga. Gw kristen ya karena terlebih dahulu ortu gw Kristen! Apakah ini salah?? Tidak! Justru kondisi ini bagi gw membuktikan kegerakan misi Allah! (Btw tapi gw bukan berarti mendukung konsep household salvation loh ya)Yang salah adalah kalau gw membiarkan hal ini menjadi satu – satunya alasan mengapa gw Kristen! Oleh karena itu gw sebagai orang Kristen g bisa sekadar percaya gitu aja. Gw harus menggali lebih dalam secara pribadi.

2.       Karena gw sudah mengalami secara pribadi kuasa Firman Tuhan.
Tahun 2014 adalah tahun pertobatan gw. Momennya adalah waktu paskah. Di masa – masa paskah gw mengetahui kuasa firman melingkupi gw. Gw waktu itu jadi gitaris paskah di kampus gw. Disitu gw pertama kali sadar betapa besarnya harga yang harus dibayar dalam pelayanan.. Saat itu gw berpikir, “Oh, jadi gini ya yang dimaksud dengan pikul salib itu?”. Bagaimana gw dalam pelayanan harus jaga hati, pikiran, perbuatan, motivasi melayani. Itu hal yang sulit banget buat gw yang bayi rohani banget. Lalu, seminggu setelah paskah di kampus, gw ikut kebaktian minggu di GBI. Disana dibukakan tentang Roma 8. Sepulang gereja gw termenung terus. Gw ga bisa lupain perkataan Paulus dalam suratnya tersebut. Gw diam, mikirin itu terus. Sampai di kosan, gw buka lagi Roma 8. Gw baca. Gw makin terpaku lagi, dan sedikit bingung. Karena bingungnya gw, gw buka Roma 7 supaya lebih jelas dalemin ayat – ayatnya. Alhasil, gw baca berulang – ulang itu 2 pasal Roma 7 dan 8. Berkali – kali gw pantengin ayatnya. GW BANGET! Pergumulan Paulus itu gw banget! Curhatan dia itu benar – benar mengupas pribadi gw secara utuh! Gimana bajingannya gw, gimana gw selama melayani berusaha terus menguduskan diri biar pelayanan gw berkenan, tetap aja jatuh lagi! Gimana natur gw yang adalah manusia berdosa selalu menghantui gw! Gimana gw ga bisa lepas dari kata – kata jorok! Hal – hal porno! Perbuatan kotor! Segalanya itu gw kira bisa gw negasi dengan usaha gw sendiri! Tapi tidak. Tidak akan bisa. Kalau bukan firman yang menyentuh gw saat itu, tidak akan bisa. Setelah baca 2 pasal itu, gw berlutut, nangis banjir di kamar kosan. Itu pertama kalinya gw pernah baca Alkitab dan merasa bahwa baca Alkitab bisa bahkan lebih seru dari main video game. Wkwkwk. Sebelumnya gw ga nyangka itu mungkin loh.

 Selama ini gw berusaha jadi orang suci. Setelah masuk UI gw berpikir, "Gw ga mau setengah bejat setengah alim. Gw mau kalau bejat ya ancur aja sekalian, kalau alim ya suci sekalian. Capek gw setengah - setengah". Maka itu yang gw coba lakukan, tapi ke arah ekstrem yang alim itu. Menghindari segala dosa dengan cara mengalokasikan waktu gw ke hal – hal yang positif dan produktif.. tapi sia – sia! Ga ada orang yang bisa suci, karena semua telah berbuat jahat! Yang suci hanyalah Tuhan Yesus!  (Bagi orang - orang yang menganut prinsip 'ketidakbersalahan', maaf, i have to disagree). Setelah gw tobat hari itu, karena firman itu, gw pertama kalinya lepas dari belenggu pornografi. Sesuatu yang dulu gw kira mustahil untuk terjadi. Kalau bukan karena firman, emang pasti mustahil buat gw sih.

3.       Perubahan yang revolusioner
Setelah kenal Injil, gw mengalami perubahan yang bagi gw drastis. No, no, bukan perubahan perilaku yang jadi alim, bijak dst. Bukan itu. Gw memang mengalami perubahan perilaku cukup banyak. Gw ga nyangka gw bisa tinggalin perbendaharaan kosakata suroboyoan’ gw yang kental banget itu, meninggalkan adiksi pornografi, adiksi ke hal – hal lain, perbuatan – perbuatan overdesire lain. Hmm.. Gw pernah nonton porno. Pernah minum2. Pernah ngerokok. Pernah ke klub malam. Dan sekarang ngga lagi. Yah semua transformasi itu terjadi sih. Tapi, bukan itu hal yang spesial buat gw. Kalau cuman sebegitu mah semua agama juga bisa memperbaiki perilaku. Kaga harus kresten kalo gitu. Kristen lebih dari itu! Seribu kali lagi : All religions are superficially the same, and fundamentally different! Semoga tidak ada yang salah kaprah dan jadi terjurumus ke paham universalis, memahami bahwa semua kepercayaan dan agama adalah sama saja asalkan sama baiknya. Mohon yak, tolong. Kalau lo sampai bilang bahwa semua agama sebenarnya sama aja, itu justru menunjukkan kalau, maap, LO HAMPIR GA TAU APAPUN tentang agama - agama yang lo bicarakan itu. Semua agama secara praktik dan terlihat di luar itu justru keliatan perbuatan dan ibadahnya sama2 aja, tp justru DASAR AJARANNYA beda semua. Jangan generalisasi, ataupun universalisasi!

Anyway, lanjut : Pertobatan yang sesungguhnya itu adalah pertobatan yang merevolusi pikiran dan hati. Itu yang SPESIAL buat gw. Meruntuhkan segala tembok pemahaman yang dasarnya salah. Memperbaiki motivasi hidup. Bukan langsung terwujudkan dalam sikap dan perilaku yang drastis berubah. Melainkan terjadi rekonstruksi pola pikir dan perspektif gw terhadap hidup! Dari situlah gw bisa berangkat ke arah yang lebih baik. Itulah kuasa injil, yang meruntuhkan ego dan memberikan nikmat yang memuaskan kekosongan hidup.

Ketiga alasan diataslah penyebab mengapa gw Kristen, dan kalau ketiganya disatukan, kesimpulannya hanya satu : I believe in Christ only because of His Grace. Anugerah. Pemberian yang manis itulah yang secara menyeluruh menjadi dasar percayanya gw.

Begitulah. Pemaparan gw terbatas banget. Gw ga bisa terlalu mendetail banget, semoga bisa lebih dalam mengulas aspek – aspek yang terkait dengan fundamental iman ini di lain post. Jujur, TUJUAN utama post gw memaparkan hal – hal diatas bukan untuk bikin orang jadi percaya ajaran Kristen. Bukan. Tujuan gw adalah untuk menunjukkan bahwa, siapapun lo, berasal dari latar belakang apapun, LO NGGA BISA MENGABAIKAN KEKRISTENAN! Orang manapun itu, dari kelas sosial, budaya, pendidikan apapun, dia tidak bisa meremehkan kekristenan! Bagaimana dampaknya yang riil sungguh terjadi secara nyata. Bagaimana keunikannya yang tak terbantahkan.

Oleh karena itu, terakhir gw ingin menyampaikan tantangan - tantangan  :
·         Bagi yang identitasnya orang Kristen
Gw bakal rada keras nih ngomong di bagian ini, soalnya gw khawatir banget liat mahasiswa Kristen masa kini. Mamam nih teguran gw~~
Kalau lo sudah mengaku orang Kristen, gw tantang untuk benar – benar berjuang mendalami iman ini. Belajar, jika belum tau mengapa lo harus Kristen, cari tau! Bagaimana kuasa Injil yang sesungguhnya. Apa esensinya? Aplikasi bagi hidup sehari – hari? Jangan misalkan kita jadi sedih mendengar berita dibakarnya gereja di Aceh, kita jadi sekadar iba, berempati.. Itu ga salah.. Tapi, sebelum lo benar – benar mempunyai hati bagi gereja di Aceh, adalah lebih penting buat lo bertanya terlebih dahulu : APAKAH LO SUDAH PUNYA HATI BAGI KRISTUS!? Kalau lo masih ragu, masih belum paham dasar, lebih baik perkuat dahulu fondasinya sebelum mengerjakan hal – hal lain. Gw butuh waktu 4 tahun merenung untuk akhirnya gw mengetahui panggilan hidup gw. Kalau para mahasiswa Kristen yang lain bisa lebih cepat, kenapa tidak?? Too many Christians proclaim loudly, "Jesus! Jesus is the ANSWER!!" While they themselves don't even know what the QUESTION is!! Makanya, AYOK BELAJAR! Kalau lo bisa baca dan mengerti konten blog ini, minimal berarti lo ada kapasitas untuk belajar! Beda ceritanya kalau lo mengalami cacat mental sehingga kesulitan berpikir analitis. Tapi di satu sisi, keindahan injil justru adalah ia aplikatif bahkan untuk kaum yang memiliki keterbelakangan mental (ini juga topik yang lagi gw sukai). Sedangkan bagaimana dengan orang awam yang punya kapasitas berpikir dengan baik? Kebanyakan orang kristen yang punya kapasitas ini justru banyak yang cuma bisa bilang, "Pokoknya percaya aja deh ama Tuhan Yesus!". Percaya..... percaya - percaya, MAMAM tuh percaya! Kalau orang autis yang IQnya rendah aja bisa percaya akan kasih Yesus yang menyelamatkan, berarti lo yang IQnya menengah ke atas dipanggil untuk lebih dari sekadar percaya! Gw tekankan disini, kalau lo mahasiswa, apalagi mahasiswa UI yang bisa berpikir dengan baik, maka percaya saja tidak cukup!! Percaya adalah cukup bagi keselamatan lo, tapi tidak sesimpel itu karena menjadi Kristen justru berarti setelah selamat lo akan mengerjakan keselamatan tersebut! Maka pelajarilah! Jangan sampai lo ditanyain ama orang, “Kenapa coba, LO KRISTEN?”. Terus lo kayak gw waktu dulu : Memble. Nyengar - nyengir. Mekkel. Mungkin haha - hihi, mungkin mengucapkan magic words favorit gw, “I don’t know!”.  Atau mungkin lo berpandangan, “Udahlah, kalo beragama jangan mentok – mentok amat. Moderat aja”. Coy, seriusan dah, buat apa lo setengah - setengah?? Harus ada effort yang lebih!

Tanggal 10 Oktober yang lalu, perspektif gw dalam menginjili berubah drastis. Gw begitu bahagia bersama injil, sampai - sampai sepulangnya gw ke kosan, gw langsung injilin temen kosan gw. Gw ceramahin temen gw selama sejam kali. Kurang lebih gw bahas hal yang sama dengan konten blog ini. Endingnya? Temen gw ini ngakunya ga bisa tidur malam itu, begadang mikirin kata - kata gue. Dia kesel karena jadi gelisah ama gagasan - gagasan gue. Lha terus gimana? Salah gw? Kagak lahGw bilang : "BIARIN! JUSTRU BAGUS!" Karena gw percaya iman tidak akan bertumbuh dalam rasa aman. Iman justru bertumbuh dalam rasa gelisah dan penuh keraguan. If you've never doubt anything, you've probably never truly believed anything, so, ayok. Ayok mikir! ayok belajar yang bener. Jangan malas belajar, jangan malas percaya!!


·         Bagi yang bukan Kristen
Bagi yang non-Kristen, gw memproposisikan supaya kalian men-challenge your worldview, just like how i challenged mine. Kalau kalian ateis, benar – benar cari tahulah, apa dasar pandangan kalian? Apakah valid? Jika kalian beragama lain, telaah juga filosofi dan dasar – dasar kepercayaan kalian. Bagaimana jika disandingkan dengan kekristenan yang asali? Dan bagi yang di luar kristen, siapapun lo, menurut gw lo perlu tahu terlebih dahulu siapa Yesus Kristus. Siapa pribadi yang paling sering diberikan predikat “The Most Significant Individual in History” ini. Yang pelayanannya hanya dilakukan di bumi selama 3,5 tahun, namun impactnya melebihi akal, sampai 2000 tahun kemudian! Bagaimana kontroversial sungguh ajaran – ajaran-Nya! Bagaimana sungguh berbeda.
I urge you to take a GOOD. LONG. LOOK. at the person of Jesus Christ. Take a GOOD look at the cross. See how different He is, read the gospel of John if you would, and decide for yourself : WHO you think HE IS.    : )

Satu quote terakhir ingin gw sematkan disini :
                “You can be a GOOD Christian and be a BAD Roman Catholic. You can be a GOOD Christian and be a BAD Muslim. You can be a GOOD Christian and be a BAD Hindu. You can be a GOOD Christian and be a BAD Buddhist. Unity does not have to be uniformity.”
Sebelum terbentuk persepsi yang salah terhadap quote gw diatas, gw himbau agar pembaca bersabar terlebih dahulu. Hal diatas akan gw ulas di lain post. Ke depannya gw berencana mengulas hal – hal yang mana menurut gw penting untuk diulas, tapi gw juga harus sering – sering mengingatkan diri gw bahwa gw bukan sekadar mahasiswa “STT FEB UI” (credits to Kak CP yang istilahnya bikin gw ngakak~~) dan justru gw adalah mahasiswa FEB UI. Jadi gw mungkin ga bisa ngepost sering – sering. Tetapi gw akan mendoakan dan mengusahakan hal ini. Peace. Makasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca. Kalau dari pembaca ada yang mau ditanyakan, disanggah, ataupun didiskusikan, boleh banget komen di blog ini. Bisa juga bertanya ke ask.fm/DennisSilaban. God bless~

--Roma 11 : 36--






Sumber referensi :

Ravi Zacharias International Ministries' sermons and seminars
RZIM in Asia Conference study materials
Apologetics 101 (Jeff Durbin)
Christian Apologetics - Defending The Christian Faith
One Minute Apologist (videos)

No comments:

Post a Comment