Sunday, December 27, 2015

What is So Merry About Christmas?

What is so merry about Christmas?





Apakah hal yang begitu menyenangkan dari Natal?

Merenungkan masa natal ini. . .
Ketika kini aku jauh dari keluarga dekat, dan bersua dengan keluarga jauh. Ketika tahun lalu aku bersuka cita dalam keseruan bersama keluarga, cross kado, sing a song, dan kesehatian lainnya, sedang tahun ini aku merayakan natal tanpa orang tua.  Tanpa pesta. Tanpa kado natal, tanpa lampu gemerlap, pohon natal pun tidak.

Ketika hangatnya natal tidak terasa di kota Medan yang asing. Ketika tanggal 24 dan 25 Desember, aku bergereja di daerah dimana tak satupun gereja mengadakan kebaktian dalam bahasa yang kumengerti. Tanpa memperoleh pesan natal. Bahkan dalam ibadah natal di kampus, natal fakultas ataupun tingkat universitas, aku kurang mendapatkan sesuatu, karena lebih sibuk menjadi panitia. Penyelenggaran acara sebagai panitia pun begitu tidak mulus kurasa. Tidak pernah menikmati juga khotbah yang utuh. Tidak dalam 4 kali ibadah natal sekalipun, tidak dapat dengan sepenuh hati menerima firman.           

Bagaimana ini bisa dibilang menyenangkan atau membahagiakan?

What is so merry about Christmas?

Tahun ini begitu sulit memaknai Natal. Berhubung menghujung akhir tahun, ketika merefleksikan setahun belakangan, begitu banyak kejadian buruk (dalam berbagai definisi) terjadi. Ekspektasi yang tidak terpenuhi, peran yang gagal dijalankan, hubungan pertemanan yang rusak, tujuan – tujuan yang tidak tercapai. Seperti saran Rolf Dobelli, seorang penulis : visit the cemeteries, the graveyard of failed individuals. Lihatlah kuburan mimpi – mimpi yang sirna, angan – angan para pejuang mimpi yang tidak tercapai, maka kau tidak akan bias dalam menilai proses hidup yang kau jalani.
Pelayanan setahun ini rumit, penuh drama—seperti yang seorang teman pernah katakan. I’m visiting the graveyard of a failed individual, my own graveyard. Aku telah gagal dalam banyak hal, dalam banyak kesempatan. Dan kini, aku gagal mengikuti Natal. Jadi bagaimana aku harus menikmati natal yang penuh kegagalan? Saat kondisi hidup dipenuhi frustasi, penuh pertanyaan.


......tanpa kusadari, terbaring dalam palungan yang hina itu, jawaban dari segala kesuksesan hidup, segala perjuangan, kepahitan dan kegagalan, segala penyesalan dan kebingungan.

Segala harapan dan keraguan bertemu pada malam yang kudus. Jawaban atas segala pertanyaan
terpenuhi di dalam sosok bayi itu.

Begitu mengingatnya, kusadari bahwa segala kejadian yang kualami semakin menarikku menjauhi makna Natal yang esensi, di saat seharusnya menarikku mendalami makna tersebut.

Coba renungkan.

Seorang tukang kayu, seorang ibu yang sederhana, sekelompok gembala miskin, segelintir rakyat biasa, dan rombongan orang majus memperoleh anugerah untuk dapat meresponi kedatangan Dia yang disebut Imanuel, “Allah menyertai kita.” (Yesaya 7 : 14, Matius 1 : 23)

Bayangkan, para gembala, dengan kondisinya yang miskin (ditunjukkan oleh keterangan Lukas 2 : 8, bagaimana mereka menggembalakan di malam hari, di padang yang dingin), di saat mereka tengah berusaha membiakkan anak domba yang terbaik, mereka beroleh anugerah, dihadiahi Anak Domba Allah yang sempurna.

Bayangkan, para raja dan orang – orang majus yang menghabiskan waktu mereka menyelidiki bintang – bintang, mendapat kesempatan menemui Dia yang menciptakan diri mereka semua, Dia yang adalah Raja diatas segala Raja. Di saat mereka penuh kebingungan menantikan Mesias untuk datang di Yerusalem, mereka memperoleh tanda yang menuntun mereka pada arah yang benar, yaitu Betlehem, persis seperti dinubuatkan oleh nabi Mikha! (Mikha 5 : 1 - 2)

Bayangkan Simeon, yang sudah seumur hidupnya menunggu kedatangan Sang Mesias (Lukas 2 : 25 - 26), akhirnya beroleh kesempatan mengangkat Bayi kudus itu, Bayi yang akhirnya akan “mengangkat” Simeon itu sendiri.

Bayangkan Maria, seorang Ibu yang penuh ketaatan. Di tengah kebingungan, walau penuh tanya, ia menjawab panggilan Tuhan, dengan iman mengiyakan nubuatan malaikat Gabriel (Lukas 1 : 38). Terlepas dari nubuatan yang akbar itu, yang diluar segala imajinasinya, terlepas kejinya bobot pengorbanan Kristus bagi Maria dalam nubuatan tentang pedang yang akan menembus jiwanya (Lukas 2 : 34 - 35), terlepas bagaimana beratnya menjadi Ibu dari Raja Damai! Dia yang disebut “AKU ADALAH AKU,” THE GREAT I AM!!” (Keluaran 3 : 14)

Aku sempat benar – benar merenungkan bagaimana jika menjadi Maria. Betapa beratnya. The gravity of it all. 
Sebuah lagu, Mary, Did You Know? Begitu menggambarkan ini semua :


Mary, did you know
that your Baby Boy would one day walk on water?

Mary, did you know
that your Baby Boy would save our sons and daughters?

Did you know
that your Baby Boy has come to make you new?
This Child that you delivered will soon deliver you.

Mary, did you know
that your Baby Boy will give sight to a blind man?

Mary, did you know
that your baby boy will calm the storm with His hand?

Did you know
that your Baby Boy has walked where angels trod?
When you kiss your little Baby you kissed the face of God?

Mary did you know.. Mary did you know
The blind will see.
The deaf will hear.
The dead will live again.
The lame will leap.
The dumb will speak
The praises of The Lamb.

Mary, did you know
that your Baby Boy is Lord of all creation?

Mary, did you know
that your Baby Boy would one day rule the nations?

Did you know
that your Baby Boy is heaven's perfect Lamb?
The sleeping Child you're holding is the Great, I Am.


Seluruh lirik lagu tersebut sungguh alkitabiah. Sejak awal November aku begitu menggumulkan lirik lagu ini. Penuh pesan iman. Bayangkan beban misi Allah yang melibatkan Maria ini. 



Dan bagaimana denganku? Membaca pasal – pasal dari Injil Yohanes, merenungkan selama masa Advent, aku makin menyadari bebanku, sukacita-ku. Beban itu sungguh menarikku kepada pesan Injil yang dalam. Sukacitaku tidak berasal dari tradisi Natal yang kuiikuti, kualami. Suka citaku bukan berasal dari tradisi, namun dari esensi Natal itu sendiri.
Bukan dari rampungnya Natal FEB UI, bukan terletak pada mulusnya pembawaan khotbah Bang Alex Nanlohy, bukan pada perayaan yang meriah baik bersama jemaat PO FEB, ataupun bersama keluarga di daerah manapun juga. Suka cita Natal terletak pada Bayi Yesus. Anugerah terbesar yang diberikan bagi umat manusia pada malam yang kudus.


What is so MERRY about CHRISTmas??

Christmas takes us back to ponder the word's first six letters, CHRIST.
What makes it all so merry is Him, The Creator of all things, come to greet us in person, in flesh, in the form of the Man-Christ Jesus. Reducing Himself in order for us to be able to respond to Him, just like Mary, just like Joseph, just like Simeon, just like the townsfolk of Betlehem, the shepherds in the night, and the Wise Men from the east. They have responded through faith, through grace.
The message of Christmas is the message of The Gospel, the fulfillment of the prophecies, the revelation of TRUTH and GRACE for all of mankind.

Thank you Lord, for The Greatest Gift of All.
Christmas really is MERRY, after all!



Sumber referensi :

The Book of Micah
The Gospel of Luke
The Gospel of John
RZIM Advent Devotions
RZIM Christmas Meditation

No comments:

Post a Comment